Sebelum kita membahas lebih dalam tentang coklat, gak ada salahnya kan kalo kita tengok ke belakang – gimana sih sejarah awalnya coklat, darimana ia berasal, dan bagaimana ia bisa ‘nyasar’ ke indonesia.
Kayaknya kalo saya bahas jadi satu posting di sini... whew, bakal panjang gak ketulungan :P so maybe, untuk sekarang saya bahas perkembangan coklat sebelum masehi. Awal banget, dulu banget... yang saya yakin kamu semua belum lahir .hahahaa... sampe eyang, nenek, kakek, pun belum lahir... Ya iyalah...
Coklat, sebenarnya terbuat dari biji kakao, dimana pohon kakao ini (Cacao tree) berasal dari lebatnya hutan di Amerika Tengah. Gabungan antara tingginya curah hujan, rata-rata suhu tahunan yang tinggi, serta kelembapan, menjadi pendukung utama tumbuhnya pohon-pohon kakao.
Dan nyatanya, biji-biji kakao telah dimanfaatkan sebagai coklat sejak 1100 SM. Hal ini dibuktikan dengan adanya residual coklat dalam beberapa guci di situs sejarah Puerto Escondido di Oaxaca, Meksiko. Pohon-pohon kakao sendiri, sebenarnya ada kemungkinan sudah tumbuh liar selama 10.000 tahun. Suku-suku Indian Olmec lah yang pertama kali mengkultivasi pohon-pohon kakao untuk memenuhi kebutuhan lokal di sekitar tahun 1200 – 300 SM. Suku Olmec, merupakan masyarakat yang cukup pandai – mereka mampu memperkenalkan banyak kebudayaannya pada Suku Maya, termasuk “xocolatl”. “xocolatl” berasal dari bahasa Nahuatl, yakni kata “xococ” yang artinya masam atau pahit, serta “atl” yang berarti air atau minuman. Xocolatl, tentu saja, adalah minuman coklat dibuat dari biji-biji kakao yang digiling (tanpa pemanis). Bagi suku Maya, minuman ini hanya boleh dikonsumsi oleh kaum tertentu saja. Suku Maya, mengganggap bahwa pohon kakao adalah pohon yang berasal dari Tuhan. Kata “Cacao” itu sendiri, sebenarnya adalah bahasa Suku Maya yang berarti “Makanan Dewa”. Oleh karena itu, dalam bahasa latin dinamakan “Theobrama Cacao” yang berarti “Makanan para dewa”.
